Friday, January 23, 2009

Words with million meanings

Situasinya begini: Setiap berangkat kekantor, saya masih diberi kesempatan melihat matahari dan pernak-pernik yang ada. Pagi itu jam sembilan kurang. Matahari bersinar hangat. Tidak panas menusuk dan tidak mendung. Pokoknya pas-lah. Saya pun selalu berjalan melewati burung-burung gereja yang langsung beterbangan karena ada manusia yang mendekat. “What a perfect morning”, dalam hati.

Tiba di tempat kerja, saya duduk, ambil napas sebentar karena naik tangga menuju lantai 4, dan mulai menyalakan computer. Butuh beberapa waktu untuk ini. Setelah terbuka, masukkan password, dan computer siap digunakan.

Di pojok kiri bawah layar computer ada ikon bundar berwarna abu-abu karena belum diaktifkan. Biasanya ini gak pernah absent untuk mengawali hari kerja. Saya klik, masukkan password, dan terlihatlah banyak ikon berwana kuning. Ada juga yang berupa foto. “Mhm… apa kabar orang-orang hari ini?”. Saya putar mouse dari atas ke bawah, dan dari bawah ke atas cuma mau lihat status orang-orang ada dalam list. Oke… ada yang bilang: Morning Fren!, Kerja Lagi, Lagi Meeting, yah banyak lah yang lainnya. Kalau diklasifikasikan maka status itu ada yang cuma greeting, pemberitahuan, marah, sedih, mengharapkan sesuatu, atau menghibur diri…

Sebelum buka aplikasi yang lain, sebisa mungkin saya bergabung dengan orang-orang yang curhat lewat statusnya itu. “Ummm saya tulis apa ya?”, mencoba cari peristiwa yang kira-kira bisa diungkapkan di status itu.

Saya mulai berfikir dan mengingat-ingat urutan kejadian dari awal bangun tidur sampai tiba di depan komputer ini. Lalu terciptalah status ini: “Morning sunshine, Love U today…” (teringat matahari yang asyik banget pagi itu -dan ini bukan tentang seseorang-)

Di hari yang lain saya lihat status teman saya seperti ini,”Jangan pakai lisan dong ngomongnya, pakai tulisan aja… sakit tau…!”.

Waduh kenapa niy orang?. Tebakan pertama: dia sedang bermasalah dengan orang lain, kemungkinan besar; pacar. Ah apa iya.. (penasaran juga niy..).

“Bu, kenapa dikau? Berantem ma orang? Sampe segitunya…”

“Hehehehe, gak kok Rin, cuma gw lagi sakit. Tenggorokan gw sakit banget sampe gak bisa ngomong, jadinya yah gw tulis begitu deh; ngomongnya jangan pakai lisan, tulisan aja. Abis gw kesakitan banget niy”, jawabnya.

“Ya ampun kirain dikau kenapa…gak taunya….”, jawab saya dengan tambahan ikon tertawa. Geli karena tebakan awal saya melesat jauh sekali. Sekali lagi, it wasn’t about someone.

Sekali waktu saya pernah tulis: “Ada di depan mata, tapi hilang begitu aja… uhhhh geram!!!!”. Teman yang pernah saya konfirmasi dulu tentang statusnya itu, kini balik bertanya pada saya soal status saya sekarang.

“Lw kenapa Rin? Apanya yang hilang?”

“Kesempatan Wien…”

“Kesempatan apa?”

“Masa depan…”

“Iya apaaaaaaa?”, dia makin penasaran.

“Anggap aja kalau gw ambil kesempatan itu, mungkin gw sekarang lagi ada di depan computer salah satu komisi negara”.

“Trus kenapa gak lw ambil?” “Mhm… belum jodoh kali ya. Waktunya gak tepat aja. Kalau gw ambil itu, berarti gw harus cabut dari tempat ini Senin ini, sedangkan waktu hari Jumat kemarin gw baru dapet pemberitahuannya, hujan gede banget dan gw harus ke sana. Mana gw mesti ngurus surat ini itu. Intinya siy, gak ada waktu bernapas buat ninggalin tempat gw sekarang. Singkat banget… Jadinya ya itu… kesempatan menghilang di depan mata… dan gw cuma bisa bilang: yah (tarik napas daleeemmmmmm banget)… dan berfikir Tuhan tahu yang terbaik (Huwaa menghibur hati sebenarnya sambil pakai ikon menangis meraung-raung, hiperbola mode: ON)”

“O ic… yah sayang banget Rin, tapi mungkin nanti akan ada kesempatan lagi, dan mungkin Tuhan ada rencana lain buat lw”

“Walah, makasih dey bu… jadi begitulah ceritanya… thx ya masukannya”

“Sama-sama Rin”.

Chatting berakhir dan kita kembali ke pekerjaan masing-masing. Dan saya masih aja menggunakan status itu sampai beberapa hari. Sedih!

Tapi btw, kalau dia gak bertanya dan saya gak menjelaskan, apa yang mungkin terpikir dari tulisan itu? Tentang seseorang? Bisa jadi…

Tapi yang pasti, saya memang kehilangan, dan itu bukan tentang seseorang.

                                                    ***

Setiap hari saya lihat status yang berbeda, kondisi yang berbeda, tapi entah kenapa, kebanyakan terkaan yang berkembang di kepala saya adalah tentang seseorang. Im not the only one, I think, tapi kesadaran untuk tidak menarik kesimpulan lebih awal tanpa konfirmasi, itu yang berusaha saya lakukan. Im not the only one, I hope.

Kamis 071213 22.00 WIB

December 14th, 2007 by arini-22

No comments:

Post a Comment