Beberapa hari yang lalu seorang teman mengirimkan saya artikel bernuansa cinta, tentang pasangan jiwa. Mhm… entah apa maksudnya. Apa karena selama ini dia melihat saya masih sendiri? (padahal siy….), atau dia punya motif-motif lain?. Well, hanya mencoba berpikir positif kalau itu salah satu bentuk perhatian antar teman, karena dia juga mengirimkan itu ke 4 orang lainnya (yang kebetulan semuanya perempuan, tapi gak tau juga apakah mereka juga masih sendiri )
Artikel ini ditulis oleh Anis Matta. Berjudul: Romantika Pasangan Jiwa. Isinya kira-kira bercerita tentang 2 kutub cinta. Jiwa dan raga. Dicontohkan olehnya kisah cinta Dody Al-Fayed - Lady Diana, Charles - Camilla Parker.
Ia melihat kisah cinta Dody Al Fayed dan Diana adalah cinta dua jiwa tanpa raga. Sedangkan Diana - Charles adalah roman dua raga yang bertemu tapi tanpa jiwa. Lebih lengkap tentang artikel aslinya, akan saya posting nanti.
Ini adalah penilaian saya tentang artikel itu. Bukan tentang bagus atau tidak. Bukan tentang benar atau salah.
Idealnya…. ketika jiwa menemukan pasangannya, maka ia harusnya bersatu juga secara raga. (Idealnya…..) Tapi…. secara kenyataan, itu memang gak mudah (walaupun gak mustahil).
Banyak orang menikah dan tetap menikah sampai mereka terpisah oleh kematian, hanya bersatu secara raga. Tapi tidak secara jiwa. Ada juga mereka yang menikah tanpa kesamaan jiwa, tapi kemudian mereka bisa mensejajarkan keduanya sehingga berjalan selaras. Ada pula mereka yang tidak sempat bersatu secara raga tapi mempunyai ikatan yang kuat sampai mereka mati.
Tak ada yang salah dengan itu. Itu pilihan. Dan kalaupun saya mempunyai teman yang melakukan itu (menikah tanpa jiwa), saya menghormati keputusannya. Malah saya sangat salut padanya. Berani ambil resiko dalam hidup. Keputusan yang sangat besar. Luar biasa hebat.
Tapi saya juga salut dengan mereka yang memilih untuk tetap mencari pasangan jiwanya. Meski ia juga bertaruh dengan hidupnya selanjutnya. Karena pertanyaan yang muncul kemudian adalah: akankah pasangan jiwa itu datang di dunia ini, atau ia baru akan bertemu di dunia selanjutnya. Butuh kelapangan hati dan kebesaran jiwa untuk memilih jalan ini. Dan kalaupun nanti ia baru akan menemukan pasangan jiwanya di dunia selanjutnya, itu akan sangat bernilai harganya. Karena ia membutuhkan waktu dan perjuangan yang panjang untuk bertemu.
Dan yang terpenting, mencari pasangan jiwa akan selalu rumit. Tidak semudah mencari pasangan raga. Dalam bentuk ekstrim, mencari semata-mata pasangan raga tidak usah jauh-jauh. Di Mall ataupun Taman Lawang juga banyak. Tapi pasangan jiwa, hanya kita sendiri yang akan mengetahuinya.
"Maka romantika cinta pasangan jiwa selalu begitu: bauran yang kompleks antara kerumitan dan keagungan." (Anis Matta)
September 26th, 2006 by arini-22
No comments:
Post a Comment