Padahal mereka lihat saya tiap hari melewati jalan yang sama, tempat tunggu yang sama, tapi perlakuan mereka juga tetap sama.
****
Saat menuju kantor, saya lebih suka melewati jalan kecil sebelum lampu merah persimpangan. Jalan itu lebarnya tidak lebih dari 1.5 meter.
Pemandangan pertama di mulut gang adalah bertemu engkong penjual buah, menyapa ibu betawi yang sibuk menyiapkan masakan, dan melewati beberapa bapak yang hampir tiap hari sejak pagi sudah ada di pinggir jalan kecil itu, (ditambah anak-anak kecil yang senang sekali bermain sepeda kecil). And they surely nice.
Senyum kadang saya terima, kadang pula tidak. Lebih sering tidak. Suara lebih dulu biasanya keluar dari saya. Paling sering, “Permisi Pak…” dan mereka hanya bilang,” O iya, iya”. Cuma itu. Wah saya suka ini.
Saat pulang kantor, saya melewati jalan besar. Melewati beberapa pangkalan tukang ojek, warung, tenda-tenda portable, KFC, dan tukang majalah.
Belum sampai portal keluar lingkungan gedung, suara-suara sudah mulai berdatangan, terutama dari para lelaki yang entah iseng atau memang berkawan dengan satpam di lingkungan saya bekerja. Mereka selalu ada di situ.
Suara selalu berasal bukan dari saya. Mulai dari, “Pulang Neng….”, “Mau dianterin?, atau kadang, “Biiiiiru, biiiiiiru”, (tergantung dari baju warna apa yang saya pakai saat itu).
Menuju gerbang KFC, kadang ada beberapa orang berseragam dari perusahaan keamanan yang memang berada dekat situ. Dan suara itu muncul lagi. “Cewek… pulang niy? Atau baru mau berangkat?.
Saya terus berjalan dan mengangkat dagu tinggi-tinggi. Snob? Tergantung dari mana melihatnya.
Orang berseragam itu telah terlewat. Saya terus berjalan. Di sebelah kanan dan agak tinggi, terletak KFC. Ada beberapa meja di luar, yang kalau saya berjalan di sisi didnding, maka kepala saya akan setinggi kaki orang yang duduk di meja itu.
Berjalanlah saya.
Tepat di bawah meja saat saya melintas, sebuah gumpalan kecil seperti tissue digulung-gulung menjadi bagian kecil, jatuh di depan saya. Itu kebetulan jatuh, atau orang yang dengan sadar dan sengaja melemparkannya ke arah saya? Tak perlu pikir panjang untuk menjawabnya, karena itu yang memang terjadi. Lagi-lagi, hanya berpikir mereka orang sakit.
Saya terus berjalan. Tepat di pos satpam saya berhenti. Menunggu lampu lalu lintas di kedua jalur berwarna merah, dan perlu beberapa lama untuk itu.
Di belakang saya berdiri ada pedagang majalah. Kadang beberapa orang berkumpul di sana. Entah siapa yang berkata, tapi suara ini selalu ada, “Nunggu siapa neng?”…. Jangan berpikir ini bentuk pertanyaan yang perlu jawaban (Karena mereka selalu melihat dan tahu mengapa saya berdiri di situ).
****
Wilayah tempat saya bekerja memang dikenal dengan wilayah tempat tinggal perempuan-perempuan yang “berangkat malam”. Mencoba memahami berbagai perlakuan yang saya terima, oke-lah mungkin mereka melihat saya juga tinggal di wilayah itu.
Tapi mereka juga melihat saya berjalan dengan teman-teman yang sama tiap hari, keluar dari perkantoran yang sama, memakai aksesoris yang itu-itu saja, memakai sepatu kets alih-alih hak tinggi, berjalan cepat tanpa belanja mata kanan-kiri, masa’ iya mereka masih melihat saya sebagai bagian dari mereka yang “berangkat malam”? Naif karena berpikiran seperti ini, atau mereka yang tidak menggunakan otaknya untuk berpikir?. Damn!
*** Seorang teman pernah berkata, “Mungkin loe perlu pasangan kali Rin…”. Mhm… jadi penasaran, mungkinkah saran itu akan tetap keluar kalau seandainya saya laki-laki? Dan karena saya perempuan, betapa hebatnya pasangan saya. Dia yang akan menjadikan saya terlihat seperti perempuan baik-baik (hanya kalau saya berjalan dengannya). Ironis.
Minggu, 08/09/07 01.00 pm
September 9th, 2007 by arini-22
No comments:
Post a Comment